[ KESAKSIAN ] KETIKA SANG MALAIKAT MAUT MENJEMPUT

Jumpa lagi dengan saya Abu azma sebagai admin situs abuzmashare.id, sudah lama saya tidak menulis blog ini karena memang ini sudah bukan lagi blog utama, yaa.. hanya tempat berbagi pengalaman saja, jadi kalau tidak ada pengalaman yang perlu dishare ke sahabat semua, tidak menulis. Karena dalam 3 hari ini saya ada pengalaman yang mungkin sangat berguna untuk anda semua, maka akan saya ungkapkan di sini, dengan harapan akan ada pelajaran hidup yang dapat kita ambil demi kehidupan yang lebih baik.


Sesuai judulnya, "Kesaksian Ketika Sang Malaikat Maut Menjemput" wah.. dari judulnya saja sudah menarik perhatian kita untuk di baca, apa lagi saat ini bertepatan dengan bulan Ramadhan 1438 H - 2018. Sesuai pesan Nabi Muhammad SAW, yang sebelumnya berasal dari Malaikat Jibril agar di treruskan kapada ummat Muhammad (Hadis Riwayat, Baihaqi) bahwasannya :

Isy ma syi'ta fainnaka Mayyitun, Wahbib ma syi'ta fainnaka Mufarroquhu, Wa'mal ma syi'ta fainnaka Majziyun bihi"
Artinya :
"Hiduplah sesuka hatimu, tetapi (ingat) engkau pasti akan mati.
Cintailah siapa pun yang ingin engkau cintai, tetapi (ingat) engkau pasti akan berpisah darinya.
Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi (ingat) engkau pasti akan mendapatkan balasannya"

Sesuai dengan pesan Nabi Muhammad (sholawat untuk beliau) diatas jelas bahwa, Allah mempersilahkan mencintai apa saja di dunia ini (harta, istri, anak dan semua yang menyenangkan di dunia ini) tetapi ingatlah suatu saat kita akan berpisah dengannya, perpisahan itu berupa kematian.

Inilah yang saya alami ketika melihat dan menyaksikan sendiri di depan mata, yaitu kematian seseorang, dan orang itu adalah kakak kandungku sendiri. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupanku ini, seumur hidupku baru pertama ini saya menyaksikan bagaimana malaikat maut itu menjemput ruh kakak saya.

Waktu itu (minggu, 27 mei 2018) antara pukul 08.00 - 09.00. Yang sebelumnya masuk IGD pada malam hari sekitar 21.30, saya mendapatkan kabar sekitar pukul 23.00 bahwa kaka saya di bawa ke IGD - RSUG Ujung Berung Bandung, penyakitnya kambuh lagi nafasnya sesak, dan berat ketika menghirup udara.

Sebenarnya penyakit yang beliau derita adalah Kanker Hati, yang sebelumnya adalah hepatitis B dan menjurus ke liver, yang di tandai pada matanya yang berwarna kuning dan muka pucat efek dari liver ini, sebagaimana kita ketahui "Liver" artinya Hati, pada stadium tertentu akan terjadi pembengkakan pada hatinya. Dan penyakit ini menurut dokter belum ada obatnya, adanya hanya obat kemoterpai agar virusnya tidak menyebar dan memperparah.

Saya perhatikan, awal mula ketahuan penyakit Hepatitis B waktu 3 bulan yang lalu, bisa di lihat dari status di Facebook yaitu tanggal 13 maret 2018, kemudian status FB yang ke 2 pada satu bulan berikutnya pada 7 April 2018. Baru saya menyadari penyakit jenis ini sangat membahayakan jiwa manusia, dalam waktu 3 bulan menjadi penyebab meninggalnya kaka saya.

Yang sangat membekas pada diri saya adalah bagaimana beliau menghadapi sakarotul maut, pagi itu sekitar pukul 07.00 - 08.00 saya di telepon kakak ipar (istri kakak) agar secepatnya ke IGD kaka saya ingin bicara, saat itu saya mulai terlintas dalam pikiran "pasti akan terjadi sesuatu dan ini pesan terakhir" segera setelah terima telepon itu saya pergi ke kamar mandi cuci muka dan bab ceopat cepat, lalu motor saya panasi sambil salin pakaian, segera motor saya gebeerr menuju IGD RS Ujung Berung.

Alhamdulillah pagi itu tidak macet, karena memang sedang libur hari minggu, sekitar 30 menit dari Cileunyi masih sempat menerima permintaan terakhir beliau, apa yang di ucapkan? inilah yang membuat hatiku tersentuh dan meneteskan air mata seketika.

Aku lihat di ruangan IGD itu ada ruangan khusus lagi, disitulah kakak saya terbaring dan di sebelahnya juga ada tetangga ranjang yang terbaring. Selang (pipa plastik) terlihat ada di hidung, tertancap di tangan kanan, terpasang di saluran pembungan air kencing, lengan kiri juga terbalut pendeteksi tekanan darah, diatas kepala ada monitor berukuran 14" kalau nggak salah. 

Sambil saya gemggam tangannya, Aku datang mas, ada apa? sambil nafas tertahan tahan "Die aku percaya karo imanmu, tolong tuntun aku golekne dalan sing padang" (di aku percaya pada imanmu, tolong bimbing saya cari jalan yang terang) lalu saya tuntun baca tahlil kalimat "Laa Illahailalloh.. Alloh.. Astghfirllohal'adzim, Laa Illahailallah..." begitu seterusnya dan beliau dapat menirukan dengan baik.

Waktu itu datang juga anak bungsunya dan masih sempat meminta maaf semua dosanya kepada anaknya "Ndhuk bapak minta maaf ya, ini orang tuamu juga" (sambil menunjuk kesaya) yang artinya menitipkan pada saya. Seketika semua yang hadir meneteskan air mata, istrinya, anak pertama, mbah (ibu kandung), dan saya sendiri yang tidak berhenti membaca tahlil.

Kemudian beliau mengucap "Ternyata umurku hanya sampai disini" lalu saya menjawab, sabar mas iklaskan, jangan memikirkan dunia, lepaskan semuanya, fokus hanya pada Allah. kemudian ditutup dengan perkataan "Aku sudah tidak bisa bicara lagi" aku jawab, iyo mas.. 

Itulah pamitan Almarhum kakak saya, setelah itu aku lihat nafasnya mulai melambat, ucapan tahlil Laa Illahaillah tertanam dalam hati, kaki dan tangannya bergerak gerak sedikit bergetar dan tubuhnya sedikit terguncang, matanya yang tertutup sekilas terbuka melihat ke atas terlihat warna kuningnya.

Nafas antara tarik dan hembus makin melambat, kemudian perawat melepas selang udara yang ada di hidung dan di ganti mengambil alat bantuan oksigen yang ada plastik gelembung udaranya. Beliau diam tidak bergerak masih ada waktu agak lama sekitar 40 menit.

Saya juga perhatikan pada monitor diatas kepala yang dari tadi berbunyi nyaring nit.. nit.. nit.. menujukkan angka, ketika awal saya datang antara 90 s/d 100 berwarna hijau, namun kini turun 75 dan terakhir 25 berwarna merah. 

Saya keluar rungan sebentar sambil melihat di kaca luar untuk menelpon semua saudara, dan tetangga bahwa kakak saya lagi kritis di gantikan anak pertamanya yang membacakan kalimat Laa Illahailallah di bisikkan pada telinganya

Lalu masuk kembali dan tetap membacakan tahlil di telinga kananya, saya sentuh pergelangan tangannya yang dingin, juga kakinya mulai dingin, tidak ada nadi yang berdenyut. Kemudian pada leher dan dahinya yang tadi ada keringat, saya lihat mulai mengering, saya sentuh lehernya masih hangat dan nadi pada leher masih aktif.

Tapi hidung makin tidak terlihat menghirup udara, saya perhatikan dan berkata "Mas.. bernafas mas.. " lalu terlihat menghirup nafas sekali tapi tidak di hembuskan. Saya meyakini kaka saya sudah meninggal dunia, lalu aku menghampiri dokter jaga yang ada di situ "Dokter coba cek sepertinya kaka saya sudah tiada" 

Lalu dokter jaga bersama perawat laki laki membawa alat deteksi denyut jantung yang ada selang kecil kecil yang ujungnya di tempelkan pada dada, aku lihat ada monitor kecil masih ada grafik denyutan, tapi lamah, aku tanya "Masih ada dok?" dokter menjawab masih, satu menit kemudian grafik kecil itu hanya sebuah garis datar dan lurus.

Dokter jaga itu lalu berkata "Keluarganya sudah di hubungi? saya jawab, sudah. Saat itulah dokter memastikan kaka saya telah tiada, dan semua alat yang menempel di lepas semua, tangan di luruskan sedekap di depan perut dan di tali, kaki di luruskan di tali pada ke-2 jempolnya, tubuh di tutupi selimut yang tipis yang dibawa dari rumah.

Lalu ranjangnya di dorong keluar, kami mengikuti di ruang, apa namanya, kalau ngak salah Pemulsaran jenazah. Lalu mulai membicarakan jenbazah mau di bawa kemana, dikuburkan dimana.  Sesuai rencana, jenazah bawa pulang dulu di rumah sendiri untuk di mandikan, dikafani dan di sholatkan warga setempat. 

Setelah semua beres kami bawa ke tanah kelahiran beliau di Sragen Jawa tengah, dibawa menggunakan mobil Ambulance dari RSUD Ujung Berung Bandung. Dari Bandung pukul 12 siang berangkat, sampai di Sragen sekitar pukul 23.00 disana juga sudah disambut acara terima jenazah terkumpul kelurga, tetangga dan saudara luar kampung. Aku lihat begitu ramai, dan kebersmaan gotong royong masih terlihat jelas, itulah kehidupan di kampung.

Walaupun di Bandung sudah di sholatkan, tapi rupanya tetangga juga ingin mensholatkan lagi, sebagai tanda penghormatan dan doa. Lalu sekitar pukul 01.00 jenazah dibawa ke tepat peristirahata terakhir dan di kuburkan di sana, disana adatnya "lebih cepat, Lebih Baik" walaupun pukul 1 dini hari tetap di kuburkan. 

Itulah 1 hari 1 malam yang sangat berkesan dalam hidup saya, dan menjadi pelajaran saya sendiri.Umur manusia tidak ada yang mengetahui kapan ujungnya, kakak saya meninggal usia 48+ tahun, usia yang masih cukup produktif dan masih banyak impian yang belum terwujud.

Harapan saya, dengan adanya tulisan ini dapat mengingatkan kita semua, sebagaimana pesan Nabi Muhammad di awal tulisan ini Berbuatlah dan Cintailah segala sesuatu yang ada di dunia ini, tapi kita semua akan mati dan mendapatkan balasannya, dengan begitu kita lebih cerdas memanfaatkan, mengisi sisa umur kita.
Advertisement
[ KESAKSIAN ] KETIKA SANG MALAIKAT MAUT MENJEMPUT